Tampilkan postingan dengan label memelihara hewan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label memelihara hewan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 September 2012

Kebiasaan Dingo


Dingo punya kebiasaan yang berbeda-beda ketika orang yang dikenalnya datang. Ada tiga orang yang sangat dikenalnya. Selain tiga orang itu, responnya tidak begitu unik dan bisa berganti-ganti. Yuk mari kita simak respon Dingo ketika yang datang:

  • Mas Tambeng
Mas Tambeng adalah bapaknya alias pemilik Dingo. Segalak-galaknya Mas Tambeng, Dingo tidak pernah takut karena mereka berdua punya ikatan yang sangat kuat dan saling menyanyangi. Mereka tidur bersama, makan bersama dan mandi bersama, eh.. Haha bohong. Mandinya sendiri-sendiri ding! Respon ketika Mas Tambeng datang ada dua jenis. Bila habis melakukan kesalahan (mengobrak-abrik tempat sampah, menggigit sandal, atau apa saja yang berbau merusak) maka Dingo akan masuk ke kolong kursi dengan telinga turun ke belakang. Ini pertanda dia takut. Bila dia tidak melakukan kesalahan, dia akan berlari-lari kegirangan menyambut Mas Tambeng lalu menjilat-jilat tangan atau kaki. Selain itu dia akan melompat-lompat.
Kesalahan Dingo yang paling fatal adalah menggigiti sandal gunung milik Umam sampai putus. Tidak hanya Dingo yang sebenarnya disalahkan. Dia kan hanya seekor hewan. Ya, tentu saja karena pemiliknya tidak waspada. Tragedi itu membuat Dingo dipukuli sampai minggat dari rumah. Saya saksi mata waktu itu. Paginya Dingo mengunyah-ngunyah modem Smart milik Umam lagi. Hahaha.. Dingo, bersalah atau tidak responnya ketika melihat Umam adalah sembunyi di kolong kursi. Jarang dia melompat-lompat kegirangan. Barangkali karena kedatangan Umam identik dengan tragedi waktu itu (hewan juga bisa trauma lho?!)
  • Saya
Saya orang yang paling lunak pada Dingo. Meskipun berkali-kali dia mengunyah sepatu flat saya, semua tidak pernah masalah. Solusinya sekarang memasukkan sepatu ketika berkunjung. Sebagai ibu asuh, saya memang lembek kalau sudah melihat ekspresi Dingo. Bagi saya dia seperti bayi yang ringkih dan patut disayang-sayang. Apa saja yang saya makan pasti dia kebagian (sekarang sudah tidak lagi karena saya hanya memberinya ati ampela rebus saja). Bila saya datang, respon Dingo cukup aneh. Bila dia sedang di depan pintu dan sudah melihat saya datang, dia akan berlari ke belakang dengan cepat. Lalu begitu saya turun dari motor dan masuk rumah, dia anak berlari sambil melompat-lompat kegirangan seperti berkata "Hai Mom.. Aku senang kamu datang" hahaha.. Kemudian dia akan mengendus saya atau barang bawaan saya, mengikuti kemana kaki saya melangkah.

Anjing, bagaimanampun juga adalah hewan yang paling ideal untuk dipeliharan. Segala perilakunya mengingatkan kita pada anak-anak dan masa kanak-kanak kita. Mungkin.


Senin, 13 Agustus 2012

Sebelum Memelihara Anjing


Dingo Gonzalez tinggal di dalam rumah berbulan-bulan karena beberapa tetangga protes lantaran ia sering mengejar anak-anak. Sedang tetangga lain tak suka karena anjing dianggap najis untuk penganut agama tertentu. Selain itu, beberapa pemakai jalan juga mengeluh karena Dingo suka mengejar motor yang lewat (sungguh anjing yang  ramah T.T). Sebenarnya, ketika memelihara anjing banyak hal yang harus kita pikirkan; pangan, papan, pola asuh, dan juga kesehatan. 

Anjing butuh tempat yang luas untuk berlarian dan melompat. Mereka binatang yang sangat aktif dan ingin tahu. Sebetulnya kasihan juga mengurung mereka di dalam rumah hanya karena memikirkan tetangga. Itulah sebabnya Dingo sering kami ajak kejar-kejaran di dalam rumah. Anjing butuh menyalurkan energi juga. Seperti manusia. 

Sekali waktu Dingo bisa lepas dari rumah, lalu berjalan-jalan sendiri, mengendus-endus pohon, dan menghampiri pacarnya di ujung gang. Saya kadang-kadang bingung, ketika di dalam rumah, anak-anak sering memanggil-manggil Dingo tapi ketika sudah berada di luar mereka berlarian karena ketakutan. 

Dingo terbiasa diajak bermain di dalam rumah. Ketika berada di luar rumah dan melihat kerumunan anak-anak, Dingo biasanya melompat-lompat atau mengikuti salah satu anak. Namun, anak-anak takut sehingga memberikan respon seperti berlari, atau berteriak. Semakin berlari, Dingo justru senang. Dia mengira sedang diajak bermain, padahal anak tersebut ketakutan. Mungkin reaksi Dingo akan lain ketika kita tetap kalem dan tidak berlari atau justru benar-benar mengajak bermain.

Untuk urusan makan, belakangan Dingo sedang manja. Dia tidak mau makan dog food dan lebih suka makan nasi seperti kami. Resikonya bulu-bulu akan rontok. Inilah problem pemilik anjing, lantaran tak tega, lantas kita sering memberi makan anjing kita dengan makanan yang kita makan. Sebaiknya bila harus makan nasi, berilah nasi dan potongan daging serta kuah kaldu tanpa bumbu apapun. 

Mengasuh anjing tak jauh beda dengan mengasuh anak. Bila bersalah ya harus dihukum agar tidak mengulangi kesalahannya. Dingo sebenarnya mudah diarahkan dalam urusan buang air. Dia buang air di dekat toilet sehingga kami mudah membersihkannya. Namun, Dingo paling tidak bisa diatur soal mencabik-cabik barang dan mengobrak-abrik sampah. Duh.. Lantaran hal-hal itu dia sering dapat hukuman. Tapi, sayangnya dia tidak jera.

Terakhir, sebelum memelihara anjing perhatikan juga masalah kesehatan. Kita harus punya budget lebih untuk rajin ke dokter. Anjing rumah biasanya lebih sehat. Dingo contohnya, bila sedang di rumah dia sangat sehat. Begitu keluar rumah, bertemu dengan anjing liar lain, pasti penyakitan. Fyuh.. Selamat memelihara anjing. Percayalah, mereka akan membuatmu bahagia ;)



Cerita Tentang Anjing

Banyak orang yang takut anjing. Termasuk saya pada awalnya. Ketakutan saya terhadap anjing bukannya tanpa alasan. Waktu TK saya pernah digigit anjing tetangga dan kaki saya berdarah-darah. Kok bisa? Begini ceritanya, ada seorang tetangga yang memelihara anjing. Orang-orang sering bilang, "Anjing itu rabies, suka ngejar-ngejar orang, hati-hati kalau digigit kamu bisa kena rabies!". 

Saya memang takut karena saya sering melihat anjing itu menyalak-nyalak bila ada orang lewat di depan rumah si pemilik. Jenisnya mungkin Schnauzer dengan bulu-bulu lebat menutupi muka. Gonggongannya membuat saya bergidik. Maklum lah, anak TK. Suatu hari, sepulang sekolah, saya dijemput paman dengan menggunakan sepeda. Paman tampaknya sedang terburu-buru, lantas dia memilih lewat jalan kampung. Saya sudah tahan nafas, takut kalau ada anjing tetangga yang galak itu. Eh ternyata benar. Anjing itu berdiri di depan rumah, di pinggir jalan yang hendak kami lewati.

Paman saya sudah memperingatkan untuk diam saja. Tapi entah kenapa yang muncul justru mulut saya yang ikut menyalak, "Guk, guk, guk!". Spontan anjing itu berlari kencang mengejar kami. Genjotan kaki paman tak bisa menandingi lompatan kaki anjing itu dan hap! Betis saja digigit. Saya berteriak dan mengibaskan kaki tapi anjing itu tidak mau melepaskan gigitannya. Paman saya yang kebingungan langsung menendang anjing itu.

Saya menangis. Saya takut kena rabies. Darah sudah mengucur deras dari betis. Sampai di rumah kaki saya diobati ibu. Meski lukanya tak begitu parah, tapi saya tetap takut sebentar lagi saya kena rabies dan mati. Pikiran anak kecil memang konyol. Dan luka itu sembuh dengan sendirinya. Saya memang tidak mati karena gigitan anjing, tapi momentum itu memberikan trauma tersendiri bagi saya. Anjing, bagaimanapun lucunya tetap menakutkan buat saya.

Di lain cerita, pacar saya tinggal dengan anjing. Awalnya saya takut ketika anjing itu dibawa pulang. Dia dinamai Dingo. Tubuhnya kecil, ringkih, warnanya putih, dan tatapannya sendu. Penghuni kontrakan lain membelinya dari pasar hewan. Dingo adalah anjing pertama dengan tatapan  melankolis yang pernah saya lihat. Saya sangsi di anjing betulan. Jangan-jangan hanya boneka.


Dingo selalu dirantai saat saya datang karena saya takut dia tiba-tiba mengejar dan menggigit saya. Lama kelamaan saya bisa menerima kehadiran Dingo sebagai bagian dari hubungan kami. Konyol juga ya kalau saya meminta pacar saya pindah kontrakan hanya karena seekor anjing. Mulanya saya mencoba tidak menggubris keberadaan Dingo, sampai suatu hari sebuah peristiwa traumatis menimpa Dingo saat saya di luar kota.

Seorang tetangga yang barangkali kurang suka dengan keberadaan Dingo mencelakai anjing malang itu. Pemiliknya, Mas Tambeng, menemukan Dingo tak berdaya di parit, tak jauh dari kontrakan. Saya kira waktu itu Dingo memang patah tulang kaki. Tidak tega rasanya melihat anjing mungil itu dianiaya. Saya mulai iba dan mungkin sudah  jatuh cinta padanya.

Sejak hari itu saya membuka hati untuk seekor anjing yang malang. Rasanya seperti terapi. Mulanya saya mengelus-elus dalam keadaan dia dirantai. Itupun saat Dingo sedang tengkurap di lantai. Lama-lama saya tidak keberatan diikuti ke mana kaki saya melangkah; ke luar, ke dapur, ke kamar mandi, ke ruang tv. Saya juga sering membeli oleh-oleh untuknya. Apa saja yang ada dagingnya. 

Di kontrakan itu, meski saya hanya berdua dengan Dingo (kalau pacar saya biasanya kuliah atau sedang ada keperluan) saya merasa aman. Saya tidak takut orang asing karena sebelum orang asing memasuki rumah, Dingo akan menggonggong keras sekali. Siapapun akan segan memasuki kontrakan. 

Selang waktu berjalan, interaksi saya dengan Dingo tak lagi berbatas. Saya berani memandikan, saya berani memeluknya, dan saya suka di menjilati telapak tangan saya waktu disuapi. Saya berubah jadi ibu. Ibu dari seekor hewan yang kesepian. Saya menjadi tempatnya berlindung bila dia sedang dimarahi karena mencabik-cabik barang-barang di kontrakan, saya memanjakannya seperti anak sendiri, and it was amazing. 

Begitulah, banyak yang saya pelajari dari anjing. Anjing mengingatkan saya pada hubungan orangtua dan anak. Ketika Dingo nakal, merusak tiga sepatu kesayangan saya, saya sebal bukan main. Saya ingin memukulnya, saya ingin mencekiknya. Tapi saya juga menyayanginya. Perasaan campur aduk yang aneh. Mungkin begitu rasanya jadi orangtua kalau anak kita nakal. 

Anjing selalu ingin bebas. Sama seperti kita. Bila Dingo pergi dari rumah, maka saya yang mungkin paling khawatir. Saya takut kejadian buruk menimpanya. Saya ingin dia lekas pulang. Mungkin ibu juga begitu pada pada ketika saya lebih banyak meninggalkan rumah daripada pulang. Ah, saya rasa bila diteruskan akan lebih mengharukan dari sebuah kisah cinta sepasang manusia, haha..