Tampilkan postingan dengan label dingo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dingo. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Oktober 2012

Doggie Language


Haha, pas lihat gambar ini di Life With Dog, entah kenapa saya langsung tertawa dan ingat Dingo. Hampir semua pose pernah dilakukan Dingo. Paling sering tentu saja pose 'You Will Feed Me' lantaran setahu saya Dingo itu anjing yang tidak kenal kenyang kalau belum muntah.

Belakangan, pose yang paling sering saya lihat pose 'Curious'. Dingo punya adik baru, beberapa ekor burung yang tiap pagi membangunkan penghuni rumah. Sangkarnya digantung di dinding dan setiap pagi burung-burung itu dikeluarkan dari rumah ke teras agar kena sinar matahari. Dingo tak ketinggalan, dia akan berputar-putar mengelilingi sangkar, mengamati burung-burung itu bergerak dan tentu saja hendak mencakar. Tapi sebelum aksinya terlaksana, ayahnya sudah menghardik dan berteriak "Dingo jangan!!"

Lalu Dingo akan bersembunyi di bawah kursi. Tak lama kemudian Dingo akan mengulangi aksinya hahaha..


Rabu, 12 September 2012

Kebiasaan Dingo


Dingo punya kebiasaan yang berbeda-beda ketika orang yang dikenalnya datang. Ada tiga orang yang sangat dikenalnya. Selain tiga orang itu, responnya tidak begitu unik dan bisa berganti-ganti. Yuk mari kita simak respon Dingo ketika yang datang:

  • Mas Tambeng
Mas Tambeng adalah bapaknya alias pemilik Dingo. Segalak-galaknya Mas Tambeng, Dingo tidak pernah takut karena mereka berdua punya ikatan yang sangat kuat dan saling menyanyangi. Mereka tidur bersama, makan bersama dan mandi bersama, eh.. Haha bohong. Mandinya sendiri-sendiri ding! Respon ketika Mas Tambeng datang ada dua jenis. Bila habis melakukan kesalahan (mengobrak-abrik tempat sampah, menggigit sandal, atau apa saja yang berbau merusak) maka Dingo akan masuk ke kolong kursi dengan telinga turun ke belakang. Ini pertanda dia takut. Bila dia tidak melakukan kesalahan, dia akan berlari-lari kegirangan menyambut Mas Tambeng lalu menjilat-jilat tangan atau kaki. Selain itu dia akan melompat-lompat.
Kesalahan Dingo yang paling fatal adalah menggigiti sandal gunung milik Umam sampai putus. Tidak hanya Dingo yang sebenarnya disalahkan. Dia kan hanya seekor hewan. Ya, tentu saja karena pemiliknya tidak waspada. Tragedi itu membuat Dingo dipukuli sampai minggat dari rumah. Saya saksi mata waktu itu. Paginya Dingo mengunyah-ngunyah modem Smart milik Umam lagi. Hahaha.. Dingo, bersalah atau tidak responnya ketika melihat Umam adalah sembunyi di kolong kursi. Jarang dia melompat-lompat kegirangan. Barangkali karena kedatangan Umam identik dengan tragedi waktu itu (hewan juga bisa trauma lho?!)
  • Saya
Saya orang yang paling lunak pada Dingo. Meskipun berkali-kali dia mengunyah sepatu flat saya, semua tidak pernah masalah. Solusinya sekarang memasukkan sepatu ketika berkunjung. Sebagai ibu asuh, saya memang lembek kalau sudah melihat ekspresi Dingo. Bagi saya dia seperti bayi yang ringkih dan patut disayang-sayang. Apa saja yang saya makan pasti dia kebagian (sekarang sudah tidak lagi karena saya hanya memberinya ati ampela rebus saja). Bila saya datang, respon Dingo cukup aneh. Bila dia sedang di depan pintu dan sudah melihat saya datang, dia akan berlari ke belakang dengan cepat. Lalu begitu saya turun dari motor dan masuk rumah, dia anak berlari sambil melompat-lompat kegirangan seperti berkata "Hai Mom.. Aku senang kamu datang" hahaha.. Kemudian dia akan mengendus saya atau barang bawaan saya, mengikuti kemana kaki saya melangkah.

Anjing, bagaimanampun juga adalah hewan yang paling ideal untuk dipeliharan. Segala perilakunya mengingatkan kita pada anak-anak dan masa kanak-kanak kita. Mungkin.


Minggu, 02 September 2012

Dingo Hidup Sehat


Dingo itu anjing yang suka kuliner. Apa saja makanan manusia dia cicipi. Hobinya makan buah dan sayur. Permen juga dia suka. Kalau suka, dia bisa makan banyak sekali. Kalau tidak suka, habis diendus dia pergi. Kurang ajar banget ya?! Haha.. Akibatnya, bulu Dingo rontok. Beberapa bulan belakangan lantaran kami sering memberinya nasi dan lauk, Dingo enggan makan dog food. Padahal papanya sudah membelikan dog food yang enak (indikasi enak adalah harga mahal haha).

Ujung-ujungnya dia ngambek dan tidak mau makan. Dog food terdiam berhari-hari tanpa disentuh. Dingo bersikukuh tidak makan. Dalam keadaan lapar, bila tuan sedang di rumah, Dingo akan malas-malasan dengan muka sedih di bawah kursi. Tapi bila tuan pergi, dia akan mengaduk-aduk tong sampah, mengeluarkan isinya, dan membuat ruangan kotor. Lebih parah lagi, dia akan menggigit sandal atau sepatu yang lupa kami singkirkan. Fyuh..



Seperti yang sudah saya bilang berkali-kali, memelihara anjing itu seperti sedang punya anak. Kalau kita makan dan dia ada di dekat kita kita, spontan kita memberinya. Sama, Dingo juga begitu. Kalau saya sedang makan, dia pasti duduk di dekat saya dan saya pasti tidak tega. Kasih sesendok. Haha..

Lalu saya merasa bersalah ketika bulu-bulu lebatnya rontok. Ah, bulu itu selalu saya ciumi dan saya rindukan kapan pun. Dia anjing yang wangi (kalau habis mandi sih). Saya akhirnya berpikir untuk memberinya makan seperti kami. Nasi. Tanpa lauk yang kami makan. Tapi diganti dengan ati ampela yang direbus, tanpa bumbu.

Seminggu ini Dingo makan nasi berlauk ati ampela ayam dengan kuah berlimpah. Tidak ada garam dalam makanannya. Saya sudah berjanji tidak akan memberinya makanan yang saya makan. Kya.. Dingo resmi hidup sehat. Love.