Tampilkan postingan dengan label pengalaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pengalaman. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 September 2012

Pengalaman Kerja/Dagang



Ngomong-ngomong soal pengalaman dagang/kerja, saya mungkin punya beberapa cerita untuk dibagi. Pertama kali saya kenal dagang waktu SMA. Niatnya iseng, karena saya penggemar pernak-pernik/asesoris cewek, saya memutuskan ingin mencoba berdagang. Saya ceritakan niat itu pada ibu. Eh, ibu langsung setuju. Saya diberi modal Rp. 200.000,- (waktu itu nominal 200 ribu rasanya besar banget). Dari Pati, saya naik bus ke Semarang (kira-kira makan waktu dua jam) untuk kulakan pernak-pernik.

Sampai di Semarang, saya keluar masuk toko di Pasar Johar untuk membeli bermacam asesoris (gelang, kalung, bando, jepit rambut, bros, karet warna-warni, dll). Lalu pulang lah saya ke rumah dengan membawa seplastik besar pernak-pernik. Dari pengalaman itu, saya tahu harga grosiran. Ternyata sangat murah. Bahkan ketika saya bandingkan dengan harga yang dijual di kota saya bisa dinaikkan sampai 200%. Waw! Haha..

Esok harinya saya bawa barang dagangan saya ke sekolah. Sebelumnya, barang dagangan sudah saya labeli dengan harga yang tentu saja lebih murah dari toko (barang yang sama). Alhasil, barang dagangan laris manis di sekolah. Sisanya saya tawarkan ke rumah tetangga. Saya door to door menawarkan dagangan ke tetangga. Kalau mau jadi pedagang ya jangan malu, begitu kata ibu.

Dalam beberapa hari dagangan saya habis. Untung-nya lumayan dan bisa buat kulakan lagi sehingga barang yang dibeli lebih banyak. Sayangnya, setelah itu saya harus Ujian Nasional. Ibu melarang saya jualan lagi untuk persiapan ujian :(

Sampai ujian selesai dan masuk kuliah, saya tidak pernah jualan lagi. Tapi, saya bekerja di sebuah pusat terapi untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Awalnya jadi asisten yang tugasnya merapikan alat-alat terapi dan mainan. Gajinya kecil, Rp. 75.000,- sebulan. Saya kerja part time sepulang kuliah. Berbulan-bulan bekerja sebagai asisten alat, saya diminta untuk jadi asisten terapis/prompter. Tugas saya membantu anak-anak memberi bantuan ketika terapis memberikan instruksi pada mereka. Biasanya, anak-anak berkebutuhan khusus yang berada pada kategori berat akan susah mengikuti instruksi dari terapis. Itulah gunanya prompter.

Berbulan-bulan pula saya jadi prompter dan mulai mencintai dunia ini, akhirnya saya diminta menjadi terapis. Karena saya masih kuliah, jadi saya dapat sesi sore sekitar pukul 3 sampai pukul 5. Selama menjadi terapis, saya banyak belajar tentang bagaimana cara menangani anak-anak berkebutuhan khusus (materi yang tidak saya dapatkan di bangku kuliah). Satu tahun saya bekerja sebagai terapis di Yogasmara Therapy Center Semarang. Sampai akhirnya saya buka Primakids Learning Center di Pati sampai sekarang. Syukur, punya ilmu yang bermanfaat untuk membantu orang tua yang punya anak berkebutuhan khusus. Doakan secepatnya bisa buka cabang di Semarang ;)


Senin, 13 Agustus 2012

Cerita Tentang Anjing

Banyak orang yang takut anjing. Termasuk saya pada awalnya. Ketakutan saya terhadap anjing bukannya tanpa alasan. Waktu TK saya pernah digigit anjing tetangga dan kaki saya berdarah-darah. Kok bisa? Begini ceritanya, ada seorang tetangga yang memelihara anjing. Orang-orang sering bilang, "Anjing itu rabies, suka ngejar-ngejar orang, hati-hati kalau digigit kamu bisa kena rabies!". 

Saya memang takut karena saya sering melihat anjing itu menyalak-nyalak bila ada orang lewat di depan rumah si pemilik. Jenisnya mungkin Schnauzer dengan bulu-bulu lebat menutupi muka. Gonggongannya membuat saya bergidik. Maklum lah, anak TK. Suatu hari, sepulang sekolah, saya dijemput paman dengan menggunakan sepeda. Paman tampaknya sedang terburu-buru, lantas dia memilih lewat jalan kampung. Saya sudah tahan nafas, takut kalau ada anjing tetangga yang galak itu. Eh ternyata benar. Anjing itu berdiri di depan rumah, di pinggir jalan yang hendak kami lewati.

Paman saya sudah memperingatkan untuk diam saja. Tapi entah kenapa yang muncul justru mulut saya yang ikut menyalak, "Guk, guk, guk!". Spontan anjing itu berlari kencang mengejar kami. Genjotan kaki paman tak bisa menandingi lompatan kaki anjing itu dan hap! Betis saja digigit. Saya berteriak dan mengibaskan kaki tapi anjing itu tidak mau melepaskan gigitannya. Paman saya yang kebingungan langsung menendang anjing itu.

Saya menangis. Saya takut kena rabies. Darah sudah mengucur deras dari betis. Sampai di rumah kaki saya diobati ibu. Meski lukanya tak begitu parah, tapi saya tetap takut sebentar lagi saya kena rabies dan mati. Pikiran anak kecil memang konyol. Dan luka itu sembuh dengan sendirinya. Saya memang tidak mati karena gigitan anjing, tapi momentum itu memberikan trauma tersendiri bagi saya. Anjing, bagaimanapun lucunya tetap menakutkan buat saya.

Di lain cerita, pacar saya tinggal dengan anjing. Awalnya saya takut ketika anjing itu dibawa pulang. Dia dinamai Dingo. Tubuhnya kecil, ringkih, warnanya putih, dan tatapannya sendu. Penghuni kontrakan lain membelinya dari pasar hewan. Dingo adalah anjing pertama dengan tatapan  melankolis yang pernah saya lihat. Saya sangsi di anjing betulan. Jangan-jangan hanya boneka.


Dingo selalu dirantai saat saya datang karena saya takut dia tiba-tiba mengejar dan menggigit saya. Lama kelamaan saya bisa menerima kehadiran Dingo sebagai bagian dari hubungan kami. Konyol juga ya kalau saya meminta pacar saya pindah kontrakan hanya karena seekor anjing. Mulanya saya mencoba tidak menggubris keberadaan Dingo, sampai suatu hari sebuah peristiwa traumatis menimpa Dingo saat saya di luar kota.

Seorang tetangga yang barangkali kurang suka dengan keberadaan Dingo mencelakai anjing malang itu. Pemiliknya, Mas Tambeng, menemukan Dingo tak berdaya di parit, tak jauh dari kontrakan. Saya kira waktu itu Dingo memang patah tulang kaki. Tidak tega rasanya melihat anjing mungil itu dianiaya. Saya mulai iba dan mungkin sudah  jatuh cinta padanya.

Sejak hari itu saya membuka hati untuk seekor anjing yang malang. Rasanya seperti terapi. Mulanya saya mengelus-elus dalam keadaan dia dirantai. Itupun saat Dingo sedang tengkurap di lantai. Lama-lama saya tidak keberatan diikuti ke mana kaki saya melangkah; ke luar, ke dapur, ke kamar mandi, ke ruang tv. Saya juga sering membeli oleh-oleh untuknya. Apa saja yang ada dagingnya. 

Di kontrakan itu, meski saya hanya berdua dengan Dingo (kalau pacar saya biasanya kuliah atau sedang ada keperluan) saya merasa aman. Saya tidak takut orang asing karena sebelum orang asing memasuki rumah, Dingo akan menggonggong keras sekali. Siapapun akan segan memasuki kontrakan. 

Selang waktu berjalan, interaksi saya dengan Dingo tak lagi berbatas. Saya berani memandikan, saya berani memeluknya, dan saya suka di menjilati telapak tangan saya waktu disuapi. Saya berubah jadi ibu. Ibu dari seekor hewan yang kesepian. Saya menjadi tempatnya berlindung bila dia sedang dimarahi karena mencabik-cabik barang-barang di kontrakan, saya memanjakannya seperti anak sendiri, and it was amazing. 

Begitulah, banyak yang saya pelajari dari anjing. Anjing mengingatkan saya pada hubungan orangtua dan anak. Ketika Dingo nakal, merusak tiga sepatu kesayangan saya, saya sebal bukan main. Saya ingin memukulnya, saya ingin mencekiknya. Tapi saya juga menyayanginya. Perasaan campur aduk yang aneh. Mungkin begitu rasanya jadi orangtua kalau anak kita nakal. 

Anjing selalu ingin bebas. Sama seperti kita. Bila Dingo pergi dari rumah, maka saya yang mungkin paling khawatir. Saya takut kejadian buruk menimpanya. Saya ingin dia lekas pulang. Mungkin ibu juga begitu pada pada ketika saya lebih banyak meninggalkan rumah daripada pulang. Ah, saya rasa bila diteruskan akan lebih mengharukan dari sebuah kisah cinta sepasang manusia, haha..