Rabu, 27 Februari 2013

Lampu Bohlam Cantik

Pagi ini saya ditantang Mbak Latree Manohara ngeblog dengan #prompt 'lampu bohlam'. Haha. Sebenarnya bukan ditantang sih, tapi dipaksa mengeluarkan ide. Tapi saya sedang malas belakangan ini. Malas menulis cerpen, prosa, atau puisi. Jadi untuk tantangan kali ini saya putuskan untuk menulis tentang bagaimana membuat prakarya dari lampu bohlam bekas. 

Dulu, waktu SD saya pernah membuat prakarya serupa dalam rangka memanfaatkan barang bekas sebagai benda hiasan. Saya dapat ide dari ibu. Oke, mari kita lihat apa saja yang dibutuhkan untuk membuat prakarya ini.

Bahan:
  • 1 lampu bohlam bekas (yang 10 watt biasanya, jangan yang terlalu kecil)
  • 30 cm kawat 
  • tanaman air
  • 55 -70 ml air 
Alat:
  • obeng/palu atau alat lain untuk mengeluarkan isi bohlam

Ini gambar yang bikin Papa Donat

Cara membuat:
  • Keluarkan isi lampu bohlam lewat ujung. Hati-hati jangan sampai bohlam pecah. 
  • Setelah isi lampu bohlam dikeluarkan, lilit bagian ujung bohlam dengan kawat. Kawat ini berfungsi untuk menggantung bohlam.
  • Isi bohlam dengan air, kemudian masukkan tanaman air ke dalamnya (pilih tanaman yang ramping seperti sirih air)
  • Gantungkan ke dinding, dekat pintu rumah.
Selesai. Hiasan rumah yang cantik dan murah. Selamat mencoba! ;)


Sabtu, 23 Februari 2013

Minimarket Vs Toko Kelontong

Gambar diambil dari sini.

Tahukah Anda kenapa barang di minimarket/swalayan harganya lebih mahal dibanding harga toko biasa? Ya, tepat! Lantaran kita turut membeli kenyamanan. Nah sebenarnya, mengapa minimarket/swalayan menawarkan kenyamanan pada kita? 

Belakangan, setelah saya melakukan investigasi di beberapa minimarket/swalayan dan mendapati kecurangan-kecurangan yang mereka lakukan (akan saya bahas kapan-kapan tentang kecurangan-kecurangan ini), saya enggan masuk ke minimarket/swalayan untuk belanja, kecuali amat sangat kepepet.  Kondisi kepepet yang saya maksud seperti, barang yang saya butuhkan hanya dijual di sana, kondisi cuaca, waktu, dan urgensi dari barang yang saya butuhkan. Sekarang, saya lebih suka menyambangi toko-toko kelontong atau toko grosir di pasar. 

Apa kepuasan yang saya dapatkan? Pertama, mengetahui bahwa saya telah berhemat sepertiga persen dari biasanya. Itu kepuasan tersendiri untuk saya sebagai orang yang (bukan) kaya. Kedua, harga label dengan banyaknya nominal yang saya keluarkan sama.

Sebenarnya apa yang membuat toko kelontong dan toko grosir menetapkan harga yang lebih murah dari minimarket/swalayan? Mereka sama sekali tidak menawarkan kenyamanan dalam berbelanja. Kita tidak akan menemukan sejuknya AC yang membuat kita betah berkeliling, rak-rak yang berjajar rapi atau kantong belanja bersih dengan cetakan nama toko. Tidak. Kita tidak mendapatinya. Namun, apa sebenarnya yang tersembunyi di balik kenyamanan yang ditawarkan minimarket/swalayan itu? Perilaku konsumtif.

Berbelanja di supermarket, meski dengan harga yang jauh lebih mahal, mengapa lebih dipilih? Pertama, karena kita tidak menyadari bahwa korporat sedang menggiring perilaku kita ke arah konsumtif. "Ayo berbelanja terus, di sini nyaman!" begitu kira-kira bisikannya ketika dingin AC menyentuh kulit kita. Kenyamanan berupa kondisi ruangan membuat kita betah 'berbelanja'. Itu berarti kita diberi ruang untuk berlama-lama melakukan negosiasi dengan 'nafsu' kita. Banyak barang-barang yang sesungguhnya tidak kita perlukan akhirnya masuk ke dalam keranjang. 

Rak-rak yang berjajar rapi itu sesungguhnya memberi dilema tersendiri. Selain memudahkan pencarian barang, kadang-kadang kita dibuat untuk tidak loyal pada satu merk. Kita dihadapkan pada banyaknya pilihan. Naluri untuk selalu 'mencoba yang baru' terombang-ambing di sini. 

Minimarket/swalayan mencitrakan diri mereka sebagai tempat yang bersih dan 'berkelas' dengan bangunan beralas keramik, penerangan super, bebas debu, dan kantong belanja yang membuat sebagian orang merasa 'lebih bangga' bila menenteng plastik putih bertuliskan nama minimarket/swalayan tertentu. Permainan psikologis semacam inilah yang dibidik.

Gambar diambil dari sini.

Sebagian orang takut berbelanja di toko kelontong/toko grosir lantaran dibekali dengan ketakutan-katakutan yang lebih dulu disiarkan melalui televisi perihal produk palsu, tanggal kadaluwarsa yang tidak diperhatikan, dan tidak mempertimbangkan segi kebersihan. Sesungguhnya itu tidak benar-benar terbukti. Dan bila kita sadar, tayangan-tayangan investigasi tersebut merupakan 'pintu utama' yang membuat kita memusuhi toko kelontong dan pasar tradisional. Saya pun termasuk orang yang termakan pencitraan tersebut sebelum saya menemukan banyak keganjilan yang terjadi kemudian saya hubungkan dalam dinamika. Bila Anda mengetahuinya, saya yakin Anda akan bergidik.

Jadi sekarang Anda (paling tidak) tahu mengapa minimarket/swalayan melabeli produknya dengan lebih mahal. Seiring dengan hal itu, Anda pun harus tahu bahwa yang murah bukan berarti tidak sehat/palsu. Yang murah bisa jadi lantaran mereka tidak menawarkan 'modern' dalam dirinya.

Tetap sehat, tetap berbelanja dengan bijak. 




Kamis, 21 Februari 2013

Konsumen Itu Harus Pintar!

Gambar diambil dari sini

Saya sebagai konsumen adalah orang yang cukup rewel untuk urusan jual-beli. Ya wajar, sebagaimana kita tahu, UU Perlindungan Konsumen Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen Republik Indonesia menjelaskan bahwa hak konsumen diantaranya adalah hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengonsumsi barang dan atau jasa; hak untuk memilih barang dan atau jasa serta mendapatkan barang dan atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan; hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif; hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan atau penggantian, apabila barang dan atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya; dan sebagainya (diambil dari sini)

Kalau menurut saya, rewel itu harus dan wajib. Kenapa begitu? Agar kita tidak melulu dibodohi. Rasa "sungkan" sebagai orang Jawa kadang-kadang dimanfaatkan oleh produsen/pemberi layanan jasa atau pemilik usaha untuk terus menekan kita. Tentu saja tanpa kita sadari. Nah, sekali kita terperangkap dan tidak berontak, maka selamanya kita akan terperangkap dan jadi jauh lebih bodoh dari sebelumnya. 

Saya ingin bagi-bagi 'rewel' di sini. Semoga Anda mengalami hal serupa, tidak hanya bergumam "Oh iya ya?!" dan segera bertindak:
  1. Beli barang di mini market/supermarket/toko tanpa mengetahui harga. Jadi pihak penjual tidak menempel label pada barang/tempat barang. Biasanya saya akan memanggil pelayan, bertanya harga barang sebelum membawanya ke kasir seraya mengomel, "Mbok ditempeli harga to, Mbak/Mas!"
  2. Harga yang tertera di label tempat barang tidak sesuai dengan harga yang tertera di mesin kasir. Kejadian terakhir yang saya alami belum lama ini, saya membeli permen Strepsils di mini market. Pada tempat barang, tertera harga Rp. 5.500,00. Setibanya di kasir, saat saya menyodorkan uang Rp. 6.000,00, penjaga kasir bilang uang saya kurang. Saya lirik layar komputer, di situ tertera nominal Rp. 9.700,00. Langsung saya minta petugas kasir keluar dari wilayahnya dan mengecek harga. Lalu petugas kasir bilang, "Itu labelnya salah, Mbak..". Kemudian saya bilang, "Oh begitu? Ya sudah saya nggak jadi beli!" dan saya melenggang dengan santainya keluar dari mini market.
  3. Kembalian berupa permen. Saya memang tidak suka dan belum melakukan tindakan gila yang pernah dilakukan beberapa orang. Solusi untuk hal ini, paling-paling saya menghindari toko yang berlaku demikian.
  4. Rumah makan yang menampilkan menu banyak tapi ketika kita memesan, banyak pula yang tidak tersedia. Masuk black list biasanya. Haha.
  5. Petugas kasir yang selalu bilang, "Ada uang kecil saja?" ketika kita menyodorkan uang Rp.50.000,00/Rp. 100.000,00. Sungguh ini perbuatan yang tidak sopan ketika dilakukan petugas kasir di minimarket/toko besar. Sebagai pemilik usaha, menyediakan uang pecahan itu penting sebagai salah satu pelayanan terhadap konsumen. Kalimat "Ada uang kecil saja?" terdengar seolah-olah petugas kasir tidak percaya pada konsumen yang hanya punya satu lembar uang lima puluhan/ratusan ribu. 
  6. Pelayanan rumah makan/kafe yang tidak profesional; lama dalam penyajian, dan salah menu. Pelayan yang sibuk dengan handphone di depan customer. Dan perilaku yang tidak ramah.
  7. Kafe/rumah makan yang tidak menyediakan tisu, asbak, dan tusuk gigi. Ergh!
  8. Petugas kasir yang salah hitung. Biasanya kasus ini terjadi di minimarket yang buka 24 jam. Sudah lebih dari lima kali saya menjadi korban kecerobohan kasir. Bukan saya yang dirugikan memang, tapi pihak toko yang dirugikan. Tapi sama saja, bagi saya itu tidak profesional.
  9. Tukang parkir yang minta uang lalu pergi dan tak peduli.
  10. Warung-warung yang menjual makanan basi.
  11. Dan masih banyak lagi, hah!
Ya, begitulah. Bukan apa-apa, saya memang kaku dalam hal tertentu. Sengaja, karena saya ingin menggunakan hak saya secara benar. 



Rabu, 19 Desember 2012

Ambigunya Sebuah Alternatif


Apa yang terbesit di kepala Anda tentang 'undangan' yang dikirim melalui Facebook?

Undangan, dalam KBBI dirumuskan sebagai hal (perbuatan, cara) mengundang; panggilan (supaya datang). Undangan merupakan cara yang memfasilitasi 'kepentingan-kepentingan' kita baik sebagai individu maupun sebuah kelompok/komunitas. Jadi, jelas ada beberapa aspek yang terkandung dalam kata 'undangan'; yang mengundang, yang diundang, acara yang jelas, dan relasi. Facebook dalam hal ini berperan sebagai media atau sebuah cara yang menjadi alternatif untuk mengundang. Jadi, harusnya aspek-aspek yang terkandung dalam kata 'undangan' tidak dilepaskan begitu saja lantaran hal ini berkaitan dengan upaya memanfaatkan jejaring sosial seoptimal dan seefektif mungkin. 

Aspek-aspek yang perlu Anda cermati saat membuat undangan melalui Facebook:
  • Yang mengundang, Anda, baik sebagai individu/komunitas yang memiliki kepentingan dan bertanggungjawab atas acara yang akan dilaksanakan. Facebook telah memberikan pelayanan yang sangat baik dengan memberikan tiga alternatif dalam undangan; akan hadir, mungkin, dan tidak hadir. Fasilitas ini memudahkan Anda sebagai pihak yang mengundang mengetahui berapa banyak individu yang akan hadir dalam acara sehingga turut membantu Anda merancang pengeluaran.
  • Yang diundang, adalah individu/komunitas yang Anda harapkan kedatangannya setelah menerima panggilan Anda melalui Facebook. 99% pihak yang mengundang mengirimkan undangan pada semua teman tanpa kecuali. Facebook memberikan kemudahan pada kita untuk mengefektifkan waktu karena dengan sekali tekan, semua undangan terkirim. Bisa Anda bayangkan ketika undangan dalam bentuk fisik dikirim ke 2000 teman Anda? Namun kemudahan yang diberikan Facebook tak melulu harus kita gunakan. Banyak, di antara kita yang memiliki ribuan teman yang tidak sepenuhnya kita kenal. Lebih bijak lagi ketika membuat undangan, kita memilah siapa saja yang akan kita undang. Hal ini bertujuan untuk menghormati orang-orang yang kita undang. 
  • Acara yang jelas, termasuk di dalamnya waktu, tempat, keperluan, denah lokasi, dll. 
  • Relasi, merupakan aspek paling penting dalam pembuatan undangan melalui jejaring sosial/Facebook. Kenapa menjadi penting? Seperti yang sudah saya tulis pada poin dua di atas, relasi yang jelas memungkinkan sebuah acara menjadi lebih bermanfaat dan lebih 'hidup'.
Tips untuk Anda yang sering menerima undangan melalui Facebook:
  • Tanyalah pada diri Anda sendiri apakah Anda berminat untuk hadir.
  • Pastikan kehadiran/ketidakhadiran Anda dalam acara tersebut.
  • Tekan kotak 'akan hadir' bila Anda memang akan hadir setelah memastikan Anda tak punya acara lain di hari yang sama. Tekan 'tidak hadir' bila memang Anda tidak akan hadir dalam acara tersebut. Berusajalah jujur! Anda tidak akan masuk neraka hanya karena tidak menghadiri sebuah undangan. Tapi, Anda justru tidak menghormati pihak yang mengundang ketika Anda berjanji akan hadir tapi ternyata Anda tidak hadir.
  • Berusahalah seminimal mungkin menekan kotak 'mungkin' sebagai kompensasi dari rasa sungkan. Ketika Anda menekan tombol 'mungkin' konsekuensi dari kehadiran Anda sangat diharapkan. 80% kehadiran Anda diharapkan.
Semoga bermanfaat dan bijaklah menggunakan Facebook sebagai jejaring sosial. Jangan mudah diperdaya oleh media. 



Minggu, 16 Desember 2012

Lomba Mendongeng


Dalam rangka memenuhi janji pada Mbak Carra, maka pada tulisan kali ini saya akan bercerita tentang lomba mendongeng bertema televisi yang menjadi salah satu agenda dalam jambore literasi media Sabtu (15/12) kemarin di Hotel Quest. Lomba ini diselenggarakan oleh LeSPI (Lembaga Studi Pers dan Informasi) serta Yayasan TIFA. Kebetulan saya salah satu dari tiga dewan juri yang terhormat haha.. And the point is, "Jadi juri itu tidak mudah!"

Well, lomba ini diikuti oleh siswa kelas 1-6 SD dan sebanyak 15 peserta dari pelbagai daerah di Jawa Tengah hadir untuk memeriahkan acara. Saya ikut deg-degan selama acara berlangsung lho. Tiap peserta harus mendongeng di depan penonton dalam waktu 5-10 menit. Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, tema lomba mendongeng kali ini adalah televisi. Kenapa televisi? Tentu saja karena televisi menjadi sasaran utama jambore literasi media. Awalnya, kami meragukan acara ini akan diminati anak-anak lantaran aktivitas mendongeng sendiri bukan hal yang mudah. Saya mungkin saja tidak seberani anak-anak itu mendongeng. Dibutuhkan mental yang benar-benar bagus, penguasaan panggung, gesture, ekspresi, vokal, intonasi, dan juga kreativitas yang luar biasa.


Tak sedikit yang merasa grogi. Bahkan sebagian besar dari mereka mengalami 'koma di panggung' lantaran lupa jalan cerita. Namun ada pula yang dengan tenang membawakan dongengnya lantaran sudah terbiasa dengan lomba-lomba serupa. Ada hal yang lucu dari salah satu peserta dengan properti paling lengkap, namanya Bryan. Hari itu dia membawakan dongeng yang saya tulis, Tongky Dimakan Televisi. Pelbagai mainan dibawa dari rumah sesuai dengan isi dongeng yang saya buat, ada pula televisi kardus yang dilengkapi dengan senter agar tampak dramatis. Awalnya Bryan mendongeng dengan lancar di depan kami. Saya punya pengharapan lebih padanya. Namun tiba-tiba di tengah cerita, Bryan lupa. Anak itu diam membisu lalu berlari ke arah ibunya dan menangis keras sekali. 

Kontan penonton kebingungan, tapi untunglah Mbak MC segera naik panggung dan memanggil peserta berikutnya. Bryan diberi dispensasi untuk tampil kembali setelah dia siap dan rupanya dia tidak menyia-nyiakan hal itu. Di kesempatan kedua Bryan menyelesaikan dongengnya dengan baik dan menuai tepuk tangan meriah dari penonton. 

Selain Bryan, seorang gadis kecil berusia 6 bernama Ayasha tahun juga ikut mendongeng. Di antara peserta lain, Ayasha yang paling menyita perhatian penonton. Bocah bermata sipit itu sangat memukau dengan penguasaan panggung yang sangat baik dan interaksinya dengan para penonton. Meski menjadi peserta paling muda, Ayasha memiliki kemampuan bertutur dengan vokal dan intonasi layaknya pendongeng profesional. Para dewan juri akhirnya sepakat menobatkan Ayasha sebagai juara 1 dalam lomba dongeng literasi media ini.

Saya, jujur saja takjub melihat anak-anak itu mendongeng. Ayasha misalnya, dengan suara yang berganti-ganti memerankan dua tokohnya tanpa pernah luput dari karakter. Ah.. Saya kira memang mendongeng tidak mudah, tapi saya yakin kita semua bisa belajar mendongeng. Untuk adik-adik yang belum menjadi juara, saya harap mereka terus berlatih dan bisa mengikuti lomba-lomba serupa. 



Rabu, 05 Desember 2012

Properti Musim Penghujan


Inilah barang paling penting saat musim hujan, terutama buat saya yang setiap hari mobile dari satu tempat ke tempat lain dengan motor. Sepatu Crocs KW dan jas hujan. Kebetulan warnanya sama, jadi serasi. Padahal tidak sengaja. 

Sepatu Crocs KW itu baru lantaran dua sepatu saya sebelumnya rusak gara-gara sering dipakai hujan-hujanan. Kalau beli sepatu flat Bata lagi, sayang sekali buang-buang duit. Belum ada sebulan pasti rusak lagi kalau caranya gini. Akhirnya, saya beli Crocs di toko sebelah. Harganya murah. Cukup 50 ribu. Kalau mau beli di pasar mungkin bisa dapat harga miring lagi. Awet karena terbuat dari karet dan bisa dipakai selama musim hujan belum surut.

Jas hujan, di swalayan-swalayan sedang diskon. Modelnya banyak; ada yang terusan, ada yang potongan. Saya pilih yang terusan saja, lebih longgar dan tas ransel saya aman. Tanpa jas hujan, saya otomatis tidak bisa mengunjungi murid-murid saya. Itulah kenapa jas hujan selalu tersedia di dalam ransel saya. Kenapa tidak di jok? Malas, harus turun, buka - tutup jok. Kalau di ransel lebih praktis, tak usah  turun dari motor, langsung pakai dan cus cabut! Haha..




Senin, 19 November 2012

Kamaratih Batik

Dalam rangka ulang tahun Kamaratih Batik yang ke-4, saya mau ikutan nulis cerita dan review nih. 

Mungkin saya tidak akan bicara banyak soal batik. Saya termasuk orang yang jarang pakai batik sebetulnya. Alasannya sih karena saya jarang menghadiri acara-acara yang sifatnya formal. Tapi, belakangan ini saya sering dapat oleh-oleh bahkan hadiah kuis berupa kain batik. Tak terasa, ternyata ada 5 jenis batik bersembunyi di dalam lemari saya (2 kain dari murid saya, 1 kain dari Mbak Latree karena menang kuis, dan 2 kain dari bapak) hahaha.. Saya baru sadar beberapa bulan yang lalu sewaktu buka lemari di rumah (jarang-jarang buka lemari soalnya).

Kalau namanya kain, otomatis kita harus ribet cari model yang sesuai buat tubuh kita. Akhirnya, saya pergi ke rumah tante, pinjam majalah-majalah wanita yang menampilkan mode-mode batik modern sekalian minta diantar ke penjahit yang lumayan pandai mengolah batik. Empat potong kain saya bawa ke penjahit (kecuali batik dari Mbak Latree, favorit saya). Akhirnya saya berencana membuat 1 bawahan, 2 atasan santai bentuk leher sabrina, dan 1 kemeja formal. Batik dari Mbak Latree masih saya simpan, alasannya itu kain favorit saya lantaran warnanya yang segar! Hahaha, saya masih memilih model apa yang cocok untuk sepotong kain itu. Antisipasi saja, daripada nanti salah potong dan jahit.. Rencana sih mau saya bikin bawahan. Akhir-akhir ini saya suka pakai bawahan rok soalnya :))

Ya, itung-itung nyicil koleksi batik untuk acara-acara formal yang akhir-akhir ini sering saya hadiri. Semakin menua rupanya semakin banyak ritual acara yang harus dijalani hahaha.. Tidak juga sih sebenarnya. Mungkin sudah saatnya mengganti yang casual menjadi lebih rapi. Tidak lucu kan kalau saya penyuluhan, di depan ibu-ibu RT tapi pakai jeans robek-robek? :))

Untuk review Kamaratih Batik, saya tidak berani review baju (takut menang, dapat baju, tapi tidak muat) hahahaha... Jadi saya mau review Gelang Wooden Horizon saja. Ini gambarnya.


Btw, pas saya buka album koleksi Kamaratih Batik, pertama kali mata saya langsung tertuju pada gelang ini. Hahaha, ya mungkin karena saya orangnya simpel dan tidak suka banyak corak. Seperti gelang kayu ini. Fisiknya tampak kuat dan kokoh. Saat dikenakan juga membuat pergelangan tangan lebih cantik. Selain itu, gelang ini bisa dipadukan dengan model pakaian apa saja. Tak melulu harus menyesuaikan warna lantaran gelang ini pun memiliki sifat yang netral. Saya membayangkan memakai gelang ini dipadukan dengan bawahan batik dari Mbak Latree dan atasan hitam, serta sepatu hitam. Waw! Seperti apa ya kira-kira tampilan saya? :))

Itu sedikit cerita dan review untuk Kamaratih Batik. Oh ya, selamat ulang tahun. Semoga peminatnya tambah banyak dan laris manis sebagai online shop! Semoga pemilik dan pengelolanya selalu sehat biar bisa mondar-mandir kirim barang haha.. Sukses, Kamaratih!!!



Minggu, 18 November 2012

Blog Dongeng Anak


Hari ini rencananya sih mau baca Lalita eh pagi-pagi malah ngobrol sama Mbak Carra di Twitter. Awalnya cuma komentar soal dongeng yang beliau buat, lha kok ujung-ujungnya malah ide membuat blog khusus untuk dongeng anak. Gagasan dadakan yang tercetus itu ternyata disambut baik oleh beberapa teman lain; Mbak Latree, Putri Meneng dan Emak Gaoel haha.. Ini sih namanya nekat!

Lantaran beliau berempat adalah emak-emak sibuk, maka saya (yang belum jadi emak dan belum sibuk) didaulat untuk jadi komandan yang mengelola blog. Baiklah, saya langsung capcus ke blogspot, membuat blog baru yang saya namai Blog Dongeng Anak.  Rencananya blog ini dipersembahkan untuk anak-anak, orangtua yang kehabisan bahan dongeng untuk putra-putranya, juga buat pelaku homeschool di Indonesia. Kami berusaha memberikan fasilitas dengan menyediakan aneka dongeng untuk anak-anak yang bisa dibaca secara gratis. Sudah ada beberapa cerita di sana, dan semoga untuk ke depan akan ada lebih banyak cerita.

Ada lima penulis tetap di blog ini. Selain itu, kami juga menerima naskah dongeng dari kontributor yang peduli dengan dunia anak-anak. Syarat-syarat pengiriman bisa dibaca langsung di Blog Dongeng Anak. Ditunggu karya kalian! ;)





Minggu, 11 November 2012

Happy Sunday

Kemarin, entah kenapa Hari Minggu yang menyenangkan bagi saya. Pertama, cerpen saya dimuat di JakartaBeat. Judulnya Museum Barang Hilang. Itu cerpen pertama saya setelah sekian lama tidak menulis cerita. Idenya datang waktu saya naik motor, menuruni jalan Gombel Baru, di sela kemacetan yang-amat-sangat-miapah itu. Haha. Penulisan memakan waktu tiga hari dan hasilnya lumayan lah. 

Kedua, saya bertemu Erna-ibu satu anak yang penampilannya masih seperti anak kuliahan dan bikin iri-ciyus-setengah mati. Belakangan beliau sibuk mengajar di Enopi; tempat belajar Bahasa Inggris. Kualitas pertemuan kami bisa dibilang jarang. Pas diberitahu Umam dia akan datang, saya langsung senang. 

Meluncurlah kami bertiga ke Java Mall. Ada pameran komputer di sana dan kebetulan Erna  mau beli microSD. Saya tidak berkepentingan sebetulnya, tapi mendadak saya ingat harus mengumpulkan tiket Kids Fun lagi. Selepas belanja, kami bertiga main game di Kids Fun sampai kehabisan poin. Lumayan, kemarin saya mengantongi 240 lembar tiket. Hahaha.. Jadi tiket yang terkumpul sekarang 500 an lembar. 

Ketiga, pulangnya, sampai di kos saya dapat telpon dari seorang dosen Undip, kebetulan teman main saya waktu kecil. Ada job jadi pemateri edukasi seks untuk acara dasa wisma. Wah, gimana bisa nolak kalau ada hubungannya sama dunia anak-anak? 


Suara Momo

Tinggal sendiri itu ada enaknya, ada tidak enaknya. Kalau saya sih memang sudah (merasa) terusir dari rumah. Jadi mau tidak mau harus merasa enak. Kenapa begitu? Pertama, saya tidak punya kamar di rumah. Entah kenapa, mungkin ibu saya lupa kalau punya anak perempuan. Maklum, sejak kuliah, saya lebih sering tinggal di Semarang. Kadang-kadang liburan panjang pun saya tidak pulang. Sebabnya, kampung halaman saya itu terlalu nyaman. Seminggu di rumah, bisa jadi saya malas menjamah kerjaan. Saya juga tidak punya kewajiban apa pun di rumah, kecuali satu, membuat orangtua bangga. Hahaha.. Tapi, itu susah juga sebenarnya lantaran sampai sekarang saya masih begini-begini saja. Tidak enaknya tinggal sendiri itu ya, segala sesuatunya harus dipikirikan dan dikerjakan sendiri.

Di kota yang (hampir) menjelma Jakarta ini, saya tinggal di kos. Maklum, belum kuat sewa apartment apalagi beli tanah dan bangun rumah. Beginilah nasib jalang, eh lajang yang menempati sepetak kamar yang nyaman, terletak di basement, ukurannya 4,5 x 3 meter, kamar mandi dalam, dan paling penting tak banyak perabotan. Saya suka kamar yang longgar. Meski terletak di basement, tapi kamar saya dapat sinar matahari langsung lantaran kondisi tanah yang miring. Tapi, kalau musim hujan bisa lembab dan kadang kemasukan air. 

Ini kos paling lama yang saya tempati. Lebih dari lima tahun. Saya merasa cocok dan tidak ingin pindah sebenarnya kecuali karena sewa bulanannya yang makin mahal. Fyuh.. Rp. 650.000,00 bo'.. Duit syape?

Kos ini bernama Wisma L. L berasal dari nama pemiliknya yaitu Pak Lilik. Beliau sudah meninggal lantaran ditembak anak buahnya di kantor kepolisian (agak serem). Banyak hal yang sering terjadi dan sudah jadi bagian dalam hidup saya, seperti; suara derit benda digeser setiap jam 10 malam, kran mati berhari-hari di musim kemarau, barang-barang yang hilang bila lupa memasukkan, anak kosan yang nangis histeris karena bertengkar sama pacarnya, dan masih banyak lagi. Kadang bikin saya gila. Tapi, tentu saja (sekali lagi) itu bukan alasan kuat mencari kos lain. 

Dan inilah poin penting dari postingan saya hari ini, hahaha.. Pengantarnya banyak banget padahal cuma mau bilang sebel sama penjaga kos yang baru. Namanya Mas Abbas. Dia penjaga kos paling aneh sepanjang saya tinggal di sini. Baik sih orangnya, sok kenal (tiba-tiba nyapa dengan suara lantang), suka pakai wig di depan tv, suka minta uang anak kos untuk beli pulsa, dan yang paling bikin males dia suka muter lagu-lagunya Geisha di pagi hari. Saya bukan fans Geisha sih, tapi menurut saya suara Momo lumayanlah kalau sesekali didengarkan. Tapi, ini hampir tiap pagi. Lagu yang sama, suara yang sama. Suara Momo!!! Mendadak jadi musuh saya!


Selasa, 06 November 2012

Bosan Atau Memang Tahapan?!

Belakangan saya bosan menulis fiksi. Kenapa? Karena banyak sekali orang yang menulis fiksi, hehe.. Tiap ke Gramedia/Togamas saya sering bingung menentukan buku mana yang harus dibeli. Ratusan atau mungkin ribuan buku fiksi karya anak muda bertebaran dengan sampul dan judul yang menarik. Biasanya saya hanya membaca ringkasan ceritanya, lalu mengembalikan ke rak. Ujung-ujungnya saya tidak membeli apa-apa dan baru beberapa minggu lalu saya membawa pulang Lalita. Itu juga dibelikan Umam, haha. Kalau harus membeli, saya biasanya lebih suka membeli buku teman sendiri sebagai satu bentuk dukungan untuk terus menulis.

Sebagaimana kita tahu, menerbitkan buku bukan lagi persoalan rumit sekarang. Penerbit indie menjamur di mana-mana. Orang bisa dengan mudah menerbitkan tulisannya. Tak mau kalah dengan penerbit indie, penerbit-penerbit besar juga ikutan menjaring penulis-penulis baru. Ya, ini pasar dan semua orang berhak jualan. Penulis kadang-kadang lupa bahwa esensi dari menerbitkan buku bukan perihal yang sepele. Saya tiba-tiba ingat pesan ibu saat beliau membaca buku saya yang diterbitkan indie, "Menulis tidak boleh sekedar menulis. Sebisa mungkin, tulisan harus memberikan manfaat buat pembaca karena tulisan mempengaruhi pikiran seorang pembaca, dan pikiran akan termanifestasi pada perilaku."

Waktu itu saya merasa dikritik. Pada buku saya Suburban Love cetakan pertama memang banyak hal yang tidak tersaring; umpatan-umpatan dan eksploitasi patah hati yang berlebihan. Ya, kumpulan cerpen itu merupakan rangkuman dari proses pendewasaan saya. Saya butuh katarsis, dan menulis adalah medianya. Hasilnya, begitulah. Pun demikian tidak lantas saya merasa puas dengan itu sampai akhirnya edisi revisi keluar. Kritik mendewasakan. Membuat kita lebih berkembang. Dan seiring perjalanan menuju kedewasaan dalam menulis, kritik bukan lagi hal yang menyakitkan. 

Saya pikir memang ada benarnya kata ibu. Orang akan muak bila disuguhi tulisan-tulisan yang temanya itu-itu saja. Cinta ya terutama (fyuh, seka poni..). Apalagi kalau endingnya sudah bisa ditebak. Tapi, nyatanya itu tema yang tidak pernah mati dan aman dari masalah. Sayangnya membuat tulisan yang kaya dan 'nggak basi' itu susah. 

Saya tak lagi produktif menulis fiksi. Tak satu pun jadi dalam beberapa bulan belakangan hehe. Saya malah sibuk ngeblog, menulis artikel tentang media literasi, dan mengasuh blog homeschooling. Saya tidak tahu persis apakah ini bisa disebut sebuah pendewasaan atau tidak. Tapi nyatanya saya punya minat lain dalam menulis. Saya tertarik dengan tulisan-tulisan non fiksi yang sebelumnya kurang saya minati. Ada sebuah kepuasan tersendiri di sana, terutama artikel-artikel yang sifatnya ilmiah. Bisa jadi memang begini tahapannya.

Minggu ini, saya mencoba menulis. Fiksi. Dan saya mendapati banyak perubahan. Rasanya senang sekali saat cerpen itu selesai dan siap dikirim ke JakartaBeat! ;)


Kamis, 25 Oktober 2012

Analisis Tayangan


Tugas bikin analisis tayangan drama televisi selesai sudah. Yang penasaran bisa baca di sini. Atau kunjungi blog MataTandaNot bad lah haha. Meskipun saat menonton agak tersiksa, tapi rupanya ada banyak hal yang saya temukan dalam tayangan berdurasi 1,5 jam itu. Tak disadari, televisi memang membawa banyak pengaruh dalam hidup kita. Yang perlu kita waspadai adalah tayangan-tayangan 'sampah' yang membawa misi-misi tertentu yang menggiring kita pada tahap internalisasi sosial. Ironisnya kita tidak menyadari. Hah! Itulah kekuatan televisi yang merusak! Yah, sebagai pemirsa yang 'smart' sebaiknya kita memang tak hanya menonton tetapi juga memantau tayangan-tayangan yang kita tonton. 

Tugas baru dari LeSPI (Lembaga Studi Pers dan Informasi), masih terkait dengan media watch, saya ditugasi bikin analisis tayangan melodrama Korea. Haha.. Untuk kali ini, saya tidak tahu akan menghabiskan camilan apa lagi. Tunggu kabar selanjutnya! 


Jumat, 12 Oktober 2012

Niat Oh Niat


Hari ini Umam kuliah, jadi saya terlantar berdua bersama Dingo. Anjing manja itu sedang malas ngapa-ngapain, jadi saya akhirnya buka laptop untuk menyelesaikan artikel literasi media. Tugas saya hanya membuat analisa sebuah tayangan televisi dan dari bermacam tayangan yang ada pada daftar, saya memilih drama berjudul Anak-Anak Tanpa Cinta. Fyuh..

Bayangkan saja, saya tidak pernah menonton televisi beberapa tahun terakhir ini. Pertama, televisi kos penuh semut, televisi Umam rusak, dan televisi rumah dikuasai ibu. Cukup tragis sebetulnya, tapi saya pun tak punya niatan untuk membeli televisi sendiri. 

Entah kenapa tugas ini rasanya begitu menyiksa. Menonton sinetron lepas berdurasi 2 jam. Ya ampun *tutup mata*. Saya putar file yang kemarin saya ambil dari kantor LeSPI. Baru beberapa menit, saya mendadak bosan. Tapi, tak mungkin juga abaikan. Ini tugas negara. Saya pikir, mungkin saya malas menonton karena tak ada cemilan. Hahaha.

Saya tinggalkan laptop, lalu pergi ke Indomaret terdekat, membeli beberapa makanan ringan; es krim untuk Dingo, Lays rumput laut, Qtela tempe, dan 2 Momogi rasa jagung bakar. Niatnya membeli makanan kecil ya agar semangat menonton, tapi ternyata kok semangatnya tidak muncul-muncul. Hahaha..

Sampai di depan laptop, yang terjadi mulut saya tidak bisa berhenti mengunyah, file macet, dan sampai makanan habis saya belum nulis artikel hahaha.. 


Selasa, 09 Oktober 2012

Doggie Language


Haha, pas lihat gambar ini di Life With Dog, entah kenapa saya langsung tertawa dan ingat Dingo. Hampir semua pose pernah dilakukan Dingo. Paling sering tentu saja pose 'You Will Feed Me' lantaran setahu saya Dingo itu anjing yang tidak kenal kenyang kalau belum muntah.

Belakangan, pose yang paling sering saya lihat pose 'Curious'. Dingo punya adik baru, beberapa ekor burung yang tiap pagi membangunkan penghuni rumah. Sangkarnya digantung di dinding dan setiap pagi burung-burung itu dikeluarkan dari rumah ke teras agar kena sinar matahari. Dingo tak ketinggalan, dia akan berputar-putar mengelilingi sangkar, mengamati burung-burung itu bergerak dan tentu saja hendak mencakar. Tapi sebelum aksinya terlaksana, ayahnya sudah menghardik dan berteriak "Dingo jangan!!"

Lalu Dingo akan bersembunyi di bawah kursi. Tak lama kemudian Dingo akan mengulangi aksinya hahaha..


Senin, 08 Oktober 2012

In (flu) enza



Influenza, meski bukan penyakit berat, efeknya cukup menyiksa bagi tubuh. Sudah dua minggu saya terserang flu. Dampaknya lumayan, jadwal terapi jadi berantakan, tidak produktif dan ya mungkin saya memang harus istirahat.

Diawali dengan kesombongan, "Ini anak-anak kok flu semua. Tumben aku nggak sakit?". Hahaha, begitulah yang namanya sesumbar. Selalu mendapat balasan akhirnya. 

Pancaroba seperti ini memang banyak penyakit bereksistensi. Siang hari bumi begitu panas, malamnya dingin tak karuan. Hampir tiap hari, sehabis beraktivitas rasanya selalu ingin meneguk segelas air es dan saya memang melakukannya. Kadang es teh, kadang nutrisari, kadang jus, apa saja asal bisa mendinginkan. Kebetulan murid-murid juga sedang flu; Nisa, Rico, Idam, Pujo, Ivan, Satria, semua flu. 

Puncaknya di rumah, saya tidur dengan kepala mengahdap kipas angin. Paginya, hidung saya tersumbat, ingus mengalir, pusing dan demam. Tenggorokan rasanya kering dan tiap menelan berasa nyeri. Aduh! Saya kena flu! Dan beberapa hari kemudian saya harus menghadapi pilek dan batuk.

Seminggu penuh saya tidak mengajar, hanya berbaring di tempat tidur. Saya tidak minum obat, berusaha mengatasi flu dengan makan sebanyak-banyaknya dan mengurangi es. Menurut saya itu efektif, karena tubuh butuh banyak gizi untuk pulih. Dan lumayan, tapi masih batuk. 

Di rumah, malam-malam waktu saya sedang membaca buku di kamar, pintu tiba-tiba diketuk. Ternyata bapak. "Nih minum! Biar cepat sembuh batuknya!". Saya disodori sirup obat batuk. Hahaha.. so sweet banget, Bapak.. :))


Jumat, 28 September 2012

Ditelpon Diaz Pagi-Pagi



Semalam Mbak Mei telpon. Tapi saya sedang di kamar mandi waktu hape berdering dan panggilan tak terjawab. Sms Mbak Mei menyusul kemudian, katanya Diaz mau say 'thanks' sama saya. Aih, saya sudah berdebar-debar mau ditelpon Diaz. Sayangnya hape tak kunjung berbunyi. Mungkin sudah terlalu larut atau Diaz memang sudah tidur.

Paginya, Mbak Mei telpon lagi. Kali ini saya angkat dan kali ini Diaz menyapa saya, "Tante Pima" hahahahaha deuhhh leleh resanya mendengar sapaan seorang anak kecil yang fotogenik itu. Saya nyengir terus. Kayak ditelpon pacar :))

Saya sampai lupa apa saja yang dibicarakan Diaz saking takjubnya. Yang saya ingat dia menyebut nama-nama hewan yang ada di sampul buku yang saya beri dengan suara kurang jelas. Bermacam hewan dia sebutkan; buaya, monyet, dll lalu ucapan terima kasih. Setelah itu saya ngobrol dengan ibunya sebentar (ngobrol rahasia) *nyengir

Ini pengalaman pertama saya ngobrol dengan anak kecil yang belum pernah saya temui secara langsung. Saya antusias. Ya, pada dasarnya saya selalu antusias dengan semua anak kecil. Dengan Diaz ini, saya hanya mendengar cerita dari percakapan-percakapan di dunia maya. Sepertinya anak yang hebat.

Apa jadinya ya kalau kami ketemu suatu hari? 



Selasa, 25 September 2012

Suburban Love Edisi Revisi



Setelah melalui beberapa perbaikan akhirnya Suburban Love resmi direvisi. Buku ini awalnya memuat 16 cerita pendek (Shelter, Galuh, Tentang Jarak, A Cup Of Coffeedrip, Surat Dari Fukuoka, Suburban Love, Lost, Song Before Sunset, Monolog Tentang Engkau, Tokek Dan Sepatu, Catastrophe, Firasat, Cerita Di Balik Laju Kereta, Golden Day, Cerita Tanpa Ending, dan Seribu Hari Aku Menunggumu), kemudian masih berjumlah sama di edisi revisi dengan sebuah cerita pengganti. Seribu Hari Aku Menunggumu diganti dengan cerpen berjudul Di Antara Bangku Kereta Dan Pancaroba (hasil kolaborasi dengan Galih Pandu Adi).

Terima kasih untuk teman-teman yang sudah memberikan endorsement; Jenny Jusuf, Mbak Eka Situmorang, Mbak Latree Manohara, Mas Wiwien Wintarto, dan Mas Kartun. Tak lupa buat Umam yang selalu mau saya repoti untuk mengurus ini-itu.


Senin, 17 September 2012

Pembatas Buku Monster


Prakarya hari ini; membuat pembatas buku monster. Akan segera saya bagi cara membuatnya :))



Tahap I Pembuatan 10 Jendela

10 Jendela adalah media peraga untuk belajar penjumlahan 10 beserta variasinya. 


Bahan:
  • Kertas HVS
  • Kertas kado
  • Gunting
  • Lem
  • Penggaris
  • Crayon warna merah dan kuning
Cara membuat:
  • Buat pola 10 jendela yang terdiri dari 5 kolom dan 2 baris. Sisinya 3 cm. Atau bisa diunduh di sini. Buat sebanyak 10.
  • Buat persegi panjang berukuran 11 x 21 cm dengan kertas kado, buat sebanyak 10.
  • Kemudian tempelkan pola 10 Jendela di atas kertas kado
  • Buatlah lingkaran dengan crayon warna merah dan kuning (1 merah 9 kuning, 2 merah 8 kuning, 3 merah 7 kuning, 4 merah 6 kuning, dst)




Tahap selanjutnya menyusul ;)